Faktor-Faktor Rendahnya Minat Siswa SMAN2 Kota Jambi Masuk di Pendidikan Kimia UNIVERSITAS JAMBI
NAMA : DESI MARLINA
NIM : A1C113014
Kimia merupakan salah satu pelajaran yang dirasakan sulit oleh siswa sekolah menengah dan mahasiswa (Middlecam (1985). Salah satu mata pelajaran yang bisa dikatakan sulit, hal tersebut terbukti dari banyak siswa yang menjadikan kimia sebagai mata pelajaran yang sangat menakutkan.
Kimia itu sendiri yang disebutkan oleh Kean dan Middlecamp (1985: 5–9), yaitu sebagian besar ilmu kimia bersifat abstrak sehingga diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat lebih mengkonkritkan konsep-konsep yang abstrak tersebut, ilmu kimia yang dipelajari merupakan penyederhanaan dari ilmu yang sebenarnya, ilmu kimia berkembang dengan cepat, ilmu kimia tidak hanya sekedar memecahkan soal-soal, dan beban materi yang harus dipelajari dalam pembelajaran kimia sangat banyak.
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kimia adalah mata pelajaran yang sulit karena bersifat abstrak maka dari itu diperlukan suatu bantuan seperti media untuk mempermudah proses belajar.
Menurut Belly (2006:4), minat adalah keinginan yang didorong oleh suatu keinginan setelah melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhan yang diinginkannya.
Pengertian Minat belajar adalah suatu penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Seseorang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tertentu (Djamarah, 2008).
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu keinginan untuk mengamati, membandingkan dan mempertimbangkan suatu objek serta campuran dari perasaan yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Belajar Kimia
Masalah Pribadi
Seorang siswa yang memiliki masalah pribadi akan memiliki beban tersendiri, dia juga tidak bisa berkonsentrasi dengan palajarannya.
Metode Mengajar Guru yang Monoton
Sering kali seorang guru dalam hal memberikan atau menyampaikan pelajaran kurang disukai oleh muridnya. Itu karena mereka bosan dengan apa yang disampaikan terlalu kaku sesuai dengan materi. Sang guru dalam menyampaikannya terlalu monoton.
Pergaulan
Pergaulan bisa juga mempengaruhi minat belajar seseorang, apalagi ketika yang dimiliki adalah sahabat yang senangnya bermain dan tidak memperdulikan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang pelajar, teman yang seperti itu akan mempengaruhi minat siswa, sebab apabila siswa memiliki sahabat yang seperti itu, maka ia merasa memiliki pendukung untuk tetap menjadi dirinya yang malas dan tidak bertanggung jawab terhadap kewajibannya disekolah sebagai seorang siswa
Dorongan Orang Tua
Peran orang tua untuk mendorong anaknya agar mau belajar dirumah sangat penting, karena akan menimbulkan semangat tersendiri bagi siswa tersebut.
Kesulitan Terhadap Mata Pelajaran Kimia
Adapun penyebab kesulitan tersebut adalah karakteristik dari materi pelajaran kimia itu sendiri yang sebagian besar konsepnya bersifat abstrak. Selain itu, pada umumnya siswa dalam memahami materi pelajaran kimia cenderung belajar dengan hafalan.
Sistem Pembelajaran yang Diterapkan oleh Guru untuk Mata Pelajaran Kimia
Metode ceramah.
Dimana guru di sini berperan sebagai penceramah dan siswa hanya sebagai penerima materi. Tetapi dalam metode ceramah ini siswa tidak hanya diam dan mendengarkan, tetapi siswa dituntut untuk aktif dalam bertanya maupun menjawab soal-soal yang diberikan setelah pemberian materi selesai disampaikan.
Metode berdiskusi.
Dalam metode ini siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan pokok bahasan yang berbeda untuk mereka diskusikan di dalam kelompok mereka masing-masing. Setelah itu barulah setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka masing-masing. Pada saat diskusi sedang berlangsung guru hanya menjadi pengamat, dan di sela-sela diskusi guru membantu siswa dalam meluruskan permasalahan yang sedang mereka bicarakan. Dengan menggunakan metode ini guru berharap siswa lebih kreatif untuk berfikir dan memahami suatu masalah dan dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan cara-cara mereka sendiri.
Metode guru mengajak siswa untuk melakukan praktik.
Praktik di sini guru menggunakan alat-alat yang ada di laboratorium. Disini masalah yang timbul ialah kurang lengkapnya fasilitas laboratorium. Sehingga siswa hanya melakukan praktik hanya pada beberapa materi yang dimana di dalam laboratorium tersebut menyediakan alatnya.
Kesulitan Terhadap Mata Pelajaran Kimia
Adapun penyebab kesulitan tersebut adalah karakteristik dari materi pelajaran kimia itu sendiri yang sebagian besar konsepnya bersifat abstrak. Selain itu, pada umumnya siswa dalam memahami materi pelajaran kimia cenderung belajar dengan hafalan.
Membuat Siswa menjadi Berminat dan Tertarik untuk Belajar Kimia
Dalam upaya meningkatkan minat belajar, guru harus memiliki ide-ide kreatif yang dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran kimia ialah:
1. Guru dapat memanfaatkan teknologi yang sudah maju saat ini sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran kimia
2. Melakukan pengamatan objek yang diamati pada pelajaran kimia adalah benda, maka siswa hendaknya diharapkan langsung dengan peristiwa yang sesungguhnya sehingga siswa dapat mengamati sendiri gejala yang terjadi dan dapat memahaminya dengan mudah.
3. Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pelajaran kimia tidak bisa terlepas dari eksperimen atau percobaan
4. Siswa hendaknya diajarkan untuk memahami konsep bukan menghafal rumus. Perlu ditanamkan kepada siswa bahwa pelajaran IPA,khususnya kimia, hal yang paling utama adalah memahami konsep, karena rumus adalah penurunan dari konsep tersebut.
Siswa Lebih Memilih UniversitasLain Dibandingkan Universitas Jambi
Kebanyakan siswa Sekolah Menengah Akhir lebih memilih universitas favorit seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan peringkat 1 se-Indonesia dengan diikuti peringkat 2 yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), peringkat 3 yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB), peringkat 4 yaitu Universitas Indonesia (UI), peringkat 5 yaitu Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan universitas lainnya. Alasannya
1. Merupakan Universitas Terfavorit
2. Universitas yang paling banyak menawarkan pilihan fakultas kepada calon mahasiswanya
3. Prestasi dan reputasinya yang lebih meningkat dari tahun ke tahun Kebanyakan peluang masuk kerja lebih besar dan lain-lain
Observasi :
1. Apakah anda menyukai pelajaran kimia, berikan alasannya ?
Jawaban :
Kurang, saya kurang menyukai pelajaran kimia dikarenakan materi kimia sulit untuk dipahami dan kebanyakan adanya konsep yang abstrak sehingga sulit untuk dipelajari.
2. Menurut anda faktor-faktor apa saja yang membuat pelajaran kimia itu sulit dipahami ?
Jawaban :
Dari cara guru yang mengajari, materi yang sulit untuk dipahami,terlalu banyaknya rumus, saat belajar tidak konsentrasi.
3. Apakah anda berminat untuk melanjutkan kuliah di pendidikan kimia, berikan alasannya?
Jawaban :
Sedikit berminat dikarenakan ingin mencapai pilihan pertama yang diinginan ( jurusan kedokteran, biologi, dll )
4. Jika anda berminat kuliah di pendidikan kimia, apakah anda berminat untuk kuliah di UNJA, berikan alasannya ?
Jawaban :
Kurang berminat, karena ingin kuliah di luar kota Jambi dengan pilihan Universitas yang diinginkan.
Solusi :
• Memperkenalkan karakteristik Universitas Jambi khususnya Pendidikan Kimia dengan banyaknya prestasi sehinggan mendapatkan akreditasi A, menjadikan pelajaran kimia itu menyenangkan dan memberikan motivasi.
Sabtu, 14 Mei 2016
Senin, 11 April 2016
MISKONSEPSI
PADA PEMBELAJARAN KIMIA
Kimia merupakan suatu
bidang ilmu pengetahuan yang menekankan pada penguasaan konsep.
Dalam proses pembelajaran, konsep merupakan hal
yang perlu dipahami, dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Konsep kimia terbentuk
dalam diri siswa secara berangsur-angsur melalui pengalaman dan
interaksi mereka dengan alam sekitarnya. Rendahnya penguasaan
konsep merupakan salah satu kendala dalam proses belajar mengajar dan dapat
berakibat pada rendahnya hasil belajar. Hal ini tak terkecuali pada pelajaran
kimia. Salah satu penyebab rendahnya penguasaan konsep kimia adalah adanya
miskonsepsi dan kondisi pembelajaran yang kurang memperhatikan konsepsi awal
(prakonsepsi) yang dimiliki siswa (Rahayu, 2011).
Setiap siswa memiliki konsepsi
awal (prakonsepsi) yang berbeda. Konsepsi yang dimiliki siswa terkadang
tidak sesuai dengan konsepsi yang dimiliki oleh para ilmuwan.
Jika konsepsi yang dimiliki siswa sama
dengan konsepsi yang dimiliki para ilmuwan, maka
konsepsi tersebut tidak dapat dikatakan salah. Namun, jika
konsepsi yang dimiliki siswa tidak sesuai dengan konsepsi para
ilmuwan, maka siswa tersebut dikatakan mengalami
miskonsepsi (Suparno, 2013).
Miskonsepsi dapat berbentuk konsep
awal, kesalahan hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep, gagasan
intuitif atau pandangan yang salah. (Suparno, 2013).
Secara rinci, Fowler dan
Jaoude (dalam Salirawati, 2010) memandang miskonsepsi sebagai pengertian
yang tidak akurat tentang konsep, penggunaan konsep yang salah,
klasifikasi contoh-contoh yang salah tentang
penerapan konsep, pemaknaan konsep yang berbeda,
kekacauan konsep-konsep yang berbeda, dan hubungan
hirarkis konsep-konsep yang tidak benar.
Miskonsepsi yang
terjadi diantaranya adalah sebagai berikut :
Diantara miskonsepsi yang ditemukan
pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit adalah mengenai spesi-spesi
yang ada dalam suatu larutan. Siswa beranggapan bahwa serbuk NaCl hilang karena
dilarutkan dalam air dan ketika gula dilarutkan dalam air akan dihasilkan ion
dan molekul gula (Susanty, 2010). Sementara itu, pada penelitian
Sabaniati (2009) ditemukan miskonsepsi yaitu siswa beranggapan bahwa larutan
elektrolit lemah tidak menyebabkan lampu menyala, sementara larutan
nonelektrolit dapat menyebabkan lampu menyala redup. Namun belum ada penelitian
yang secara khusus mengidentifikasi miskonsepsi pada materi larutan elektrolit
dan nonelektrolit.
Dalam literatur pendidikan sains, banyak peneliti yang telah melakukan
penyelidikan terkait tingkat pemahaman dan miskonsepsi siswa. Menurut Suparno
(2013) miskonsepsi terdapat dalam semua bidang sains, termasuk kimia. Pada
bidang ilmu kimia, penelitian mengenai identifikasi miskonsepsi siswa telah
dilakukan pada topik ikatan kimia, energi ionisasi, pemisahan zat. Selain itu,
identifiksasi miskonsepsi pada materi konsep mol telah dilakukan oleh Vaudhi
pada tahun 2009, gaya antar molekul oleh Winami pada tahun 2006, stoikiometri
oleh Sembiring pada tahun 2004, hukum perbandingan tetap oleh Nuraini pada
tahun 2009, hukum gas oleh Robi’ah pada tahun 2009, asam basa oleh Al-‘Atiyyah
pada tahun 2004 (Fitriana, 2010), serta pada materi hidrokarbon oleh Annisa
(2013).
Oleh karena itu, penelitian tentang
miskonsepsi pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit juga penting untuk
dilakukan. Hal itu dikarenakan konsep mengenai larutan merupakan konsep dasar
dalam mempelajari kimia yaitu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada
reaksi kimia dalam larutan mengingat banyak reaksi kimia yang melibatkan
ion-ion dalam larutan (Susanty, 2010).
Langganan:
Postingan (Atom)