Sabtu, 14 Mei 2016

FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA MINAT SISWA SMAN 2 KOTA JAMBI MASUK DIPENDIDIKAN KIMIA UNIVERSITAS JAMBI

Faktor-Faktor Rendahnya Minat Siswa SMAN2 Kota Jambi Masuk di Pendidikan Kimia UNIVERSITAS JAMBI

NAMA : DESI MARLINA
NIM     : A1C113014

Kimia merupakan salah satu pelajaran yang dirasakan sulit oleh siswa sekolah menengah dan mahasiswa (Middlecam (1985). Salah satu mata pelajaran yang bisa dikatakan sulit, hal tersebut terbukti dari banyak siswa yang menjadikan kimia sebagai mata pelajaran yang sangat menakutkan.
  Kimia itu sendiri yang disebutkan oleh Kean dan Middlecamp (1985: 5–9), yaitu sebagian besar ilmu kimia bersifat abstrak sehingga diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat lebih mengkonkritkan konsep-konsep yang abstrak tersebut, ilmu kimia yang dipelajari merupakan penyederhanaan dari ilmu yang sebenarnya, ilmu kimia berkembang dengan cepat, ilmu kimia tidak hanya sekedar memecahkan soal-soal, dan beban materi yang harus dipelajari dalam pembelajaran kimia sangat banyak.
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kimia adalah mata pelajaran yang sulit karena bersifat abstrak maka dari itu diperlukan suatu bantuan seperti media untuk mempermudah proses belajar.
 
     Menurut Belly (2006:4), minat adalah keinginan yang didorong oleh suatu keinginan setelah melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhan yang diinginkannya.
    Pengertian Minat belajar adalah suatu penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Seseorang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tertentu (Djamarah, 2008).
     Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu keinginan untuk mengamati, membandingkan dan mempertimbangkan suatu objek serta campuran dari perasaan yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.



Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Belajar Kimia

Masalah Pribadi
        Seorang siswa yang memiliki masalah pribadi akan memiliki beban tersendiri, dia     juga tidak bisa berkonsentrasi dengan palajarannya.

       Metode Mengajar Guru yang Monoton
    Sering kali seorang guru dalam hal memberikan atau menyampaikan pelajaran    kurang disukai oleh muridnya. Itu karena mereka bosan dengan apa yang     disampaikan terlalu kaku sesuai dengan materi. Sang guru dalam      menyampaikannya terlalu monoton.

Pergaulan
        Pergaulan bisa juga mempengaruhi minat belajar seseorang, apalagi ketika yang      dimiliki adalah sahabat yang senangnya bermain dan tidak memperdulikan     kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang pelajar, teman yang seperti itu     akan mempengaruhi minat siswa, sebab apabila siswa memiliki sahabat yang     seperti itu, maka ia merasa memiliki pendukung untuk tetap menjadi dirinya yang     malas dan tidak bertanggung jawab terhadap kewajibannya disekolah sebagai     seorang siswa

Dorongan Orang Tua
       Peran orang tua untuk mendorong anaknya agar mau belajar dirumah sangat     penting, karena akan menimbulkan semangat tersendiri bagi siswa tersebut.


Kesulitan Terhadap Mata Pelajaran Kimia
    Adapun penyebab kesulitan tersebut adalah karakteristik dari materi pelajaran kimia itu sendiri yang sebagian besar konsepnya bersifat abstrak. Selain itu, pada umumnya siswa dalam memahami materi pelajaran kimia cenderung belajar dengan hafalan.

Sistem Pembelajaran yang Diterapkan oleh Guru untuk Mata Pelajaran Kimia
   
     Metode ceramah. 
            Dimana guru di sini berperan  sebagai penceramah dan siswa         hanya sebagai penerima materi. Tetapi dalam metode ceramah ini siswa tidak     hanya diam dan mendengarkan, tetapi siswa dituntut untuk aktif dalam bertanya     maupun menjawab soal-soal yang diberikan setelah pemberian materi selesai     disampaikan.


Metode berdiskusi.  
      Dalam metode ini siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa     kelompok. Setiap kelompok diberikan pokok bahasan yang berbeda untuk mereka     diskusikan di dalam kelompok mereka masing-masing. Setelah itu barulah setiap     kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka masing-masing. Pada saat     diskusi sedang berlangsung guru hanya menjadi pengamat, dan di sela-sela diskusi     guru membantu siswa dalam meluruskan permasalahan yang sedang mereka     bicarakan. Dengan menggunakan metode ini guru berharap siswa lebih kreatif     untuk berfikir dan memahami suatu masalah dan dapat menyelesaikan masalah    tersebut dengan cara-cara mereka sendiri.

 Metode guru mengajak siswa untuk melakukan praktik.  
      Praktik di sini guru menggunakan    alat-alat yang ada di laboratorium. Disini masalah yang timbul ialah kurang    lengkapnya fasilitas laboratorium. Sehingga siswa hanya melakukan praktik hanya     pada beberapa materi yang dimana di dalam laboratorium tersebut menyediakan    alatnya.


 Kesulitan Terhadap Mata Pelajaran Kimia
    Adapun penyebab kesulitan tersebut adalah karakteristik dari materi pelajaran kimia itu sendiri yang sebagian besar konsepnya bersifat abstrak. Selain itu, pada umumnya siswa dalam memahami materi pelajaran kimia cenderung belajar dengan hafalan.



Membuat Siswa menjadi Berminat dan Tertarik untuk Belajar Kimia
   
     Dalam upaya meningkatkan minat belajar, guru harus memiliki ide-ide kreatif yang dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran kimia ialah:
1.  Guru dapat memanfaatkan teknologi yang sudah maju saat ini sebagai  alat bantu dalam kegiatan pembelajaran kimia
2.     Melakukan pengamatan objek yang diamati pada pelajaran kimia adalah benda, maka siswa hendaknya diharapkan langsung dengan peristiwa yang sesungguhnya sehingga siswa dapat mengamati sendiri gejala yang terjadi dan dapat  memahaminya dengan mudah.
3.    Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pelajaran kimia tidak bisa terlepas dari eksperimen atau percobaan
4.    Siswa hendaknya diajarkan untuk memahami konsep bukan menghafal rumus. Perlu ditanamkan kepada siswa bahwa pelajaran IPA,khususnya kimia, hal yang paling utama adalah memahami konsep, karena rumus adalah penurunan dari konsep tersebut.


Siswa Lebih Memilih UniversitasLain Dibandingkan Universitas Jambi

               Kebanyakan siswa Sekolah Menengah Akhir lebih memilih universitas favorit seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan peringkat 1 se-Indonesia dengan diikuti peringkat 2 yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), peringkat 3 yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB), peringkat 4 yaitu Universitas Indonesia (UI), peringkat 5 yaitu Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan universitas lainnya. Alasannya
1.     Merupakan Universitas Terfavorit
2.    Universitas yang paling banyak menawarkan pilihan fakultas kepada   calon     mahasiswanya
3.     Prestasi dan reputasinya yang lebih meningkat dari tahun ke tahun Kebanyakan peluang masuk kerja lebih besar dan lain-lain

Observasi :
1. Apakah anda menyukai pelajaran kimia, berikan alasannya ?
Jawaban :
    Kurang, saya kurang menyukai pelajaran kimia dikarenakan materi kimia sulit untuk dipahami dan kebanyakan adanya konsep yang abstrak sehingga sulit untuk dipelajari.

2. Menurut anda faktor-faktor apa saja yang membuat pelajaran kimia itu sulit dipahami ?
Jawaban :
Dari cara guru yang mengajari, materi yang sulit untuk dipahami,terlalu banyaknya rumus, saat belajar tidak konsentrasi.

3.  Apakah anda berminat untuk melanjutkan kuliah di pendidikan kimia, berikan alasannya?
Jawaban :
    Sedikit berminat dikarenakan ingin mencapai pilihan pertama yang diinginan ( jurusan kedokteran, biologi, dll )
 
 4. Jika anda berminat kuliah di pendidikan kimia, apakah anda berminat untuk kuliah di UNJA, berikan alasannya ?
       Jawaban :  
    Kurang berminat, karena ingin kuliah di luar kota Jambi dengan pilihan Universitas yang diinginkan.

Solusi :
•                Memperkenalkan karakteristik Universitas Jambi khususnya Pendidikan Kimia dengan banyaknya prestasi sehinggan mendapatkan akreditasi A, menjadikan pelajaran kimia itu menyenangkan dan memberikan motivasi.

Senin, 11 April 2016

MISKONSEPSI PADA PEMBELAJARAN KIMIA
            Kimia  merupakan  suatu  bidang  ilmu pengetahuan yang menekankan pada penguasaan konsep.  Dalam  proses  pembelajaran,  konsep merupakan  hal  yang  perlu dipahami, dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Konsep kimia terbentuk dalam diri siswa secara berangsur-angsur melalui pengalaman  dan  interaksi  mereka  dengan alam sekitarnya. Rendahnya penguasaan konsep merupakan salah satu kendala dalam proses belajar mengajar dan dapat berakibat pada rendahnya hasil belajar. Hal ini tak terkecuali pada pelajaran kimia. Salah satu penyebab rendahnya penguasaan konsep kimia adalah adanya miskonsepsi dan kondisi pembelajaran yang kurang memperhatikan konsepsi awal (prakonsepsi) yang dimiliki siswa (Rahayu, 2011).
            Setiap siswa memiliki  konsepsi awal  (prakonsepsi) yang berbeda. Konsepsi yang dimiliki siswa terkadang tidak sesuai dengan konsepsi yang dimiliki  oleh  para  ilmuwan.  Jika  konsepsi  yang  dimiliki  siswa  sama  dengan konsepsi  yang  dimiliki  para  ilmuwan,  maka  konsepsi  tersebut  tidak  dapat dikatakan salah. Namun, jika konsepsi yang dimiliki siswa tidak sesuai dengan konsepsi  para  ilmuwan,  maka  siswa  tersebut  dikatakan  mengalami miskonsepsi (Suparno, 2013).
            Miskonsepsi dapat berbentuk konsep awal, kesalahan hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep,  gagasan  intuitif  atau  pandangan  yang  salah. (Suparno, 2013). Secara  rinci, Fowler dan Jaoude (dalam Salirawati, 2010) memandang miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat tentang konsep, penggunaan konsep  yang  salah,  klasifikasi  contoh-contoh  yang  salah  tentang  penerapan  konsep, pemaknaan  konsep  yang  berbeda,  kekacauan  konsep-konsep  yang  berbeda,  dan hubungan hirarkis konsep-konsep yang tidak benar.
Miskonsepsi yang terjadi diantaranya adalah sebagai berikut :
            Diantara miskonsepsi yang ditemukan pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit adalah mengenai spesi-spesi yang ada dalam suatu larutan. Siswa beranggapan bahwa serbuk NaCl hilang karena dilarutkan dalam air dan ketika gula dilarutkan dalam air akan dihasilkan ion dan molekul gula (Susanty, 2010). Sementara  itu, pada penelitian Sabaniati (2009) ditemukan miskonsepsi yaitu siswa beranggapan bahwa larutan elektrolit lemah tidak menyebabkan lampu menyala, sementara larutan nonelektrolit dapat menyebabkan lampu menyala redup. Namun belum ada penelitian yang secara khusus mengidentifikasi miskonsepsi pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit.
Dalam literatur pendidikan sains, banyak peneliti yang telah melakukan penyelidikan terkait tingkat pemahaman dan miskonsepsi siswa. Menurut Suparno (2013) miskonsepsi terdapat dalam semua bidang sains, termasuk kimia. Pada bidang ilmu kimia, penelitian mengenai identifikasi miskonsepsi siswa telah dilakukan pada topik ikatan kimia, energi ionisasi, pemisahan zat. Selain itu, identifiksasi miskonsepsi pada materi konsep mol telah dilakukan oleh Vaudhi pada tahun 2009, gaya antar molekul oleh Winami pada tahun 2006, stoikiometri oleh Sembiring pada tahun 2004, hukum perbandingan tetap oleh Nuraini pada tahun 2009, hukum gas oleh Robi’ah pada tahun 2009, asam basa oleh Al-‘Atiyyah pada tahun 2004 (Fitriana, 2010), serta pada materi hidrokarbon oleh Annisa (2013).
            Oleh karena itu, penelitian tentang miskonsepsi pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit juga penting untuk dilakukan. Hal itu dikarenakan konsep mengenai larutan merupakan konsep dasar dalam mempelajari kimia yaitu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada reaksi kimia dalam larutan mengingat banyak reaksi kimia yang melibatkan ion-ion dalam larutan (Susanty, 2010).