Senin, 11 April 2016

MISKONSEPSI PADA PEMBELAJARAN KIMIA
            Kimia  merupakan  suatu  bidang  ilmu pengetahuan yang menekankan pada penguasaan konsep.  Dalam  proses  pembelajaran,  konsep merupakan  hal  yang  perlu dipahami, dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Konsep kimia terbentuk dalam diri siswa secara berangsur-angsur melalui pengalaman  dan  interaksi  mereka  dengan alam sekitarnya. Rendahnya penguasaan konsep merupakan salah satu kendala dalam proses belajar mengajar dan dapat berakibat pada rendahnya hasil belajar. Hal ini tak terkecuali pada pelajaran kimia. Salah satu penyebab rendahnya penguasaan konsep kimia adalah adanya miskonsepsi dan kondisi pembelajaran yang kurang memperhatikan konsepsi awal (prakonsepsi) yang dimiliki siswa (Rahayu, 2011).
            Setiap siswa memiliki  konsepsi awal  (prakonsepsi) yang berbeda. Konsepsi yang dimiliki siswa terkadang tidak sesuai dengan konsepsi yang dimiliki  oleh  para  ilmuwan.  Jika  konsepsi  yang  dimiliki  siswa  sama  dengan konsepsi  yang  dimiliki  para  ilmuwan,  maka  konsepsi  tersebut  tidak  dapat dikatakan salah. Namun, jika konsepsi yang dimiliki siswa tidak sesuai dengan konsepsi  para  ilmuwan,  maka  siswa  tersebut  dikatakan  mengalami miskonsepsi (Suparno, 2013).
            Miskonsepsi dapat berbentuk konsep awal, kesalahan hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep,  gagasan  intuitif  atau  pandangan  yang  salah. (Suparno, 2013). Secara  rinci, Fowler dan Jaoude (dalam Salirawati, 2010) memandang miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat tentang konsep, penggunaan konsep  yang  salah,  klasifikasi  contoh-contoh  yang  salah  tentang  penerapan  konsep, pemaknaan  konsep  yang  berbeda,  kekacauan  konsep-konsep  yang  berbeda,  dan hubungan hirarkis konsep-konsep yang tidak benar.
Miskonsepsi yang terjadi diantaranya adalah sebagai berikut :
            Diantara miskonsepsi yang ditemukan pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit adalah mengenai spesi-spesi yang ada dalam suatu larutan. Siswa beranggapan bahwa serbuk NaCl hilang karena dilarutkan dalam air dan ketika gula dilarutkan dalam air akan dihasilkan ion dan molekul gula (Susanty, 2010). Sementara  itu, pada penelitian Sabaniati (2009) ditemukan miskonsepsi yaitu siswa beranggapan bahwa larutan elektrolit lemah tidak menyebabkan lampu menyala, sementara larutan nonelektrolit dapat menyebabkan lampu menyala redup. Namun belum ada penelitian yang secara khusus mengidentifikasi miskonsepsi pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit.
Dalam literatur pendidikan sains, banyak peneliti yang telah melakukan penyelidikan terkait tingkat pemahaman dan miskonsepsi siswa. Menurut Suparno (2013) miskonsepsi terdapat dalam semua bidang sains, termasuk kimia. Pada bidang ilmu kimia, penelitian mengenai identifikasi miskonsepsi siswa telah dilakukan pada topik ikatan kimia, energi ionisasi, pemisahan zat. Selain itu, identifiksasi miskonsepsi pada materi konsep mol telah dilakukan oleh Vaudhi pada tahun 2009, gaya antar molekul oleh Winami pada tahun 2006, stoikiometri oleh Sembiring pada tahun 2004, hukum perbandingan tetap oleh Nuraini pada tahun 2009, hukum gas oleh Robi’ah pada tahun 2009, asam basa oleh Al-‘Atiyyah pada tahun 2004 (Fitriana, 2010), serta pada materi hidrokarbon oleh Annisa (2013).
            Oleh karena itu, penelitian tentang miskonsepsi pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit juga penting untuk dilakukan. Hal itu dikarenakan konsep mengenai larutan merupakan konsep dasar dalam mempelajari kimia yaitu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada reaksi kimia dalam larutan mengingat banyak reaksi kimia yang melibatkan ion-ion dalam larutan (Susanty, 2010).