MISKONSEPSI
PADA PEMBELAJARAN KIMIA
Kimia merupakan suatu
bidang ilmu pengetahuan yang menekankan pada penguasaan konsep.
Dalam proses pembelajaran, konsep merupakan hal
yang perlu dipahami, dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Konsep kimia terbentuk
dalam diri siswa secara berangsur-angsur melalui pengalaman dan
interaksi mereka dengan alam sekitarnya. Rendahnya penguasaan
konsep merupakan salah satu kendala dalam proses belajar mengajar dan dapat
berakibat pada rendahnya hasil belajar. Hal ini tak terkecuali pada pelajaran
kimia. Salah satu penyebab rendahnya penguasaan konsep kimia adalah adanya
miskonsepsi dan kondisi pembelajaran yang kurang memperhatikan konsepsi awal
(prakonsepsi) yang dimiliki siswa (Rahayu, 2011).
Setiap siswa memiliki konsepsi
awal (prakonsepsi) yang berbeda. Konsepsi yang dimiliki siswa terkadang
tidak sesuai dengan konsepsi yang dimiliki oleh para ilmuwan.
Jika konsepsi yang dimiliki siswa sama
dengan konsepsi yang dimiliki para ilmuwan, maka
konsepsi tersebut tidak dapat dikatakan salah. Namun, jika
konsepsi yang dimiliki siswa tidak sesuai dengan konsepsi para
ilmuwan, maka siswa tersebut dikatakan mengalami
miskonsepsi (Suparno, 2013).
Miskonsepsi dapat berbentuk konsep
awal, kesalahan hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep, gagasan
intuitif atau pandangan yang salah. (Suparno, 2013).
Secara rinci, Fowler dan
Jaoude (dalam Salirawati, 2010) memandang miskonsepsi sebagai pengertian
yang tidak akurat tentang konsep, penggunaan konsep yang salah,
klasifikasi contoh-contoh yang salah tentang
penerapan konsep, pemaknaan konsep yang berbeda,
kekacauan konsep-konsep yang berbeda, dan hubungan
hirarkis konsep-konsep yang tidak benar.
Miskonsepsi yang
terjadi diantaranya adalah sebagai berikut :
Diantara miskonsepsi yang ditemukan
pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit adalah mengenai spesi-spesi
yang ada dalam suatu larutan. Siswa beranggapan bahwa serbuk NaCl hilang karena
dilarutkan dalam air dan ketika gula dilarutkan dalam air akan dihasilkan ion
dan molekul gula (Susanty, 2010). Sementara itu, pada penelitian
Sabaniati (2009) ditemukan miskonsepsi yaitu siswa beranggapan bahwa larutan
elektrolit lemah tidak menyebabkan lampu menyala, sementara larutan
nonelektrolit dapat menyebabkan lampu menyala redup. Namun belum ada penelitian
yang secara khusus mengidentifikasi miskonsepsi pada materi larutan elektrolit
dan nonelektrolit.
Dalam literatur pendidikan sains, banyak peneliti yang telah melakukan
penyelidikan terkait tingkat pemahaman dan miskonsepsi siswa. Menurut Suparno
(2013) miskonsepsi terdapat dalam semua bidang sains, termasuk kimia. Pada
bidang ilmu kimia, penelitian mengenai identifikasi miskonsepsi siswa telah
dilakukan pada topik ikatan kimia, energi ionisasi, pemisahan zat. Selain itu,
identifiksasi miskonsepsi pada materi konsep mol telah dilakukan oleh Vaudhi
pada tahun 2009, gaya antar molekul oleh Winami pada tahun 2006, stoikiometri
oleh Sembiring pada tahun 2004, hukum perbandingan tetap oleh Nuraini pada
tahun 2009, hukum gas oleh Robi’ah pada tahun 2009, asam basa oleh Al-‘Atiyyah
pada tahun 2004 (Fitriana, 2010), serta pada materi hidrokarbon oleh Annisa
(2013).
Oleh karena itu, penelitian tentang
miskonsepsi pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit juga penting untuk
dilakukan. Hal itu dikarenakan konsep mengenai larutan merupakan konsep dasar
dalam mempelajari kimia yaitu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada
reaksi kimia dalam larutan mengingat banyak reaksi kimia yang melibatkan
ion-ion dalam larutan (Susanty, 2010).
berdasarkan pemaparan miskonsepsi diatas,bisakah anda berikan alasan dimana letak miskonsepsi terhadap materi elektrolit terhadap siswa pada pelajaran kimia ?
BalasHapusterima kasih
Terimakasih siti nurjanah sudah bertanya. Nah Dari paparan yang saya jelaskan diatas, letak miskonsepsi pada materi elektrolit adalah pada penelitian Sabaniati (2009) ditemukan miskonsepsi yaitu siswa beranggapan bahwa larutan elektrolit lemah tidak menyebabkan lampu menyala, sementara larutan nonelektrolit dapat menyebabkan lampu menyala redup.
BalasHapusDari uraian yang dijelaskan, saya akan menambahkan sedikit pendapat terkait permasalahan diatas. Miskonsepsi seperti yang kita ketahui merupakan kesalahan konsep pelajaran yang diterima oleh siswa. Kegagalan konsep ini dapat terus berlanjut apabila tidak segera diatasi. Kebanyakan materi kimia itu saling terkait dari konsep awal hingga akhir. Dalam hal ini peran guru sangat berpengaruh. Intinya peran guru sangat penting dalam hal ini. Melalui bimbingan guru siswa diharapkan dapat mengetahui letak kelemahannya dalam memahami suatu konsep tertentu khususnya pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit, sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam memahami materi tersebut. Namun, bagaimana cara yang efektif dilakukan bagi seorang guru dalam membantu miskonsepsi siswa ini?
BalasHapusYang ingin saya tanyakan dari penjelasan saudari desi di atas, bagaimana cara seorang guru dalam mengatasi miskonsepsi pada pembelajaran kimia materi elektolit ?
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusterimakasih kepada nurjanah atas tambahan materi serta pertanyaannya. cara yang efektif yang dilakukan seorang guru dalam membantu miskonsepsi siswa adalah salah satunya dengan metode pembelajaran delikan (dengar, lihat, kerjakan). Metode pembelajaran delikan menekankan kegiatan belajar siswa, dimulai dari kegiatan mendengar, disusul dengan kegiatan melihat, dan diakhiri dengan kegiatan mengerjakan. Tiga hal tersebut ada dalam satu kesatuan yang tidak
BalasHapusterpisahkan satu sama lain. Dalam metode ini, tugas guru adalah memberi stimulasi auditif (pendengaran), stimulasi visual (penglihatan), dan stimulasi motorik (pekerjaan). Dengan memperhatikan ketiga hal tersebut pembelajaran akan berlangsung efektif dan efisien sehingga meminimalkan kemungkinan terjadinya miskonsepsi.